Sejarah

Sejarah Singkat Gereja

Kekristenan di Legian bermula dari I Kicen atau Pak Tegeg yang mengawali pemberitaan “Kabar Baik” ke daerah Legian. Sebagai saudagar sapi dari Untal-Untal, dia secara berkala pergi ke bukit Pecatu untuk membeli sapi yang hendak dijual ke daerah lain atau ke pasar hewan di Kediri Tabanan. Dalam perjalanan nya itu seringkali Pak Tegeg harus bermalam di Legian dan menginap di rumah sahabatnya bernama Pak Wayan Raneh. Dalam kesempatan itu mulailah Pak Tegeg mengenalkan Yesus dan memberitakan “Kabar Baik” ke Pak Wayan Raneh. Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya Pak Wayan Raneh mengenalkan Pak Wayan Enteg kepada Pak Tegeg yang pada saat itu adalah seorang pemangku dan kelian adat di Legian. Pak Wayan Enteg sangat tertarik dengan hal-hal spiritual sehingga obrolan mereka semakin berkembang. Selanjutnya Pak Wayan Enteg juga membeli buku-buku rohani Kristen untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap kekristenan.

Setelah melewati pergumulan yang Panjang akhirnya Pak Wayan Enteg beserta Istri Ni Nyoman Lanis serta adiknya Ni Ketut Sarni, Pak Wayan Reneh beserta istri Ni Wayan Numbrig, dan adiknya bernama Ni Ketut Ranih di baptis pada tanggal 7 Februari 1940 oleh utusan dari GKJW yang bernama Mas Darmadi. Baptisan dilaksanakan di rumah Pak Wayan Enteg. Sama seperti yang dialami oleh orang Bali Kristen lainnya, keluarga ini pun diusir dari tempat tinggalnya dan tidak diperbolehkan menempati karang desa dan dikucilkan kesepekang tidak diajak bergaul di daerah Legian. Walaupun sempat putus asa dengan pergumulan yang begitu berat tapi berkat penyertaan Tuhan pak Wayan Enteg tetap gigih memberitakan Injil. Menurut catatan stamboek oental-oental, pada tanggal 17 Mei 1942 bertambah lagi keluarga yang dibaptis yaitu keluarga I Kupung dan istrinya Ni Cibluk.

Tidak hanya di Legian, kabar baik juga diberitakan Pak Wayan Enteg ke Seminyak dan Basangkasa. Adalah Pak Made Sekun dan istrinya Ni Wayan Sari, seorang yang cukup terpandang di masyarakat dan menjadi Pemangku di Pura Desa, juga Kelian Adat. Awalnya Ni Wayan Sari mengenal kekristenan dari para penginjil yang mampir dengan menjual buku-buku rohani dan tertarik untuk membelinya. Pak Made Sekun akhirnya juga tertarik dengan ajaran Kristen setelah mendapat penjelasan dari Pak Wayan Enteg. Setelah dirasa cukup memahami maka Pak Made Sekun mengambil keputusan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat dalam hidupnya, serta mengajak istri dan anaknya pindah ke agama Kristen. Sesungguhnya dia mempunyai tujuh orang anak, tapi lima orang meninggal dan tinggal I Made Merta dan Ni Nyoman Merti. Istrinya I Made Merta tidak siap dengan perubahan dan akhirnya memutuskan bercerai. Ibu I Made Merta merasa kasihan dan ingin mencarikan istri untuk I Made Merta. Saat itu Ni Ketut Renih diajak oleh Ni Nyoman Lanis bekerja menumbuk beras di rumah keluarga I Made Merta. Ni Ketut Renih berperawakan tinggi besar, rajin dan kuat bekerja dan seorang Kristen. Ibu I Made Merta ingin menjadikannya menantu. Akhirnya terjadilah upacara perkawinan antara I Made Merta dan Ni Ketut Renih di Seminyak dan tercatat sebagai perkawinan Kristen pertama di daerah itu. Sama seperti yang terjadi di Legian begitupun di Seminyak terhadap keluarga Kristen, dikeluarkan dari keanggotaan banjar, tidak diajak bicara/bergaul, tidak boleh dikubur bila ada yang meninggal bahkan lebih tragis lagi kebun dan rumah tinggal mereka dirusak. Mereka mengalami penganiayaan yang luar biasa namun Iman mereka bertambah kuat. Dan karena kesaksian keluarga ini ada keluarga di Basangkasa juga ikut masuk Kristen.

Tahun 1951 – 1959 masa pelayanan Pak Wayan Enteg. Setelah dipersiapkan sebagai guru Injil, Pak Wayan Enteg melayani jemaat Legian mula-mula. Walaupun kemampuan Theologia nya sangat terbatas tapi dia sangat semangat belajar dan melakukan penginjilan. Sekitar tahun 1959 di Seminyak, Pak Made Sekun mempersembahkan bangunan Gedung Gereja   untuk tempat beribadah di Seminyak. Ibadah dilakukan secara bergantian di Legian dan di Seminyak. Pada saat itu jemaat sudah mulai berkembang, tercatat warga jemaat menjadi 10 KK atau sekitar 47 jiwa.

Tahun 1960 – 1961 Pendeta Ketut Daniel ditugaskan untuk melayani di Jemaat Legian, berangkat dari Untal-untal dengan bersepeda.

Tahun 1962 – 1965 Pelayanan oleh Pendeta Made Ayub dari Abianbase. Pada masa itu kegiatan pemuda nya sangat aktif dan semangat.

Tahun 1966 – 1970 Pelayanan kembali oleh Pak Wayan Enteg. Pada masa ini pula Gedung Gereja di Legian mulai dibangun diatas tanah milik I wayan Enteg dan I Nyoman Parna adiknya. Gedung itu sekarang menjadi rumah Pastori. Pada tahun 1968 perwakilan umat Kristen di Kelurahan Kuta diundang oleh Bupati Badung saat itu Bp. I Wayan Dana untuk menerima sebidang tanah seluas 10 are yang dimanfaatkan untuk tanah kuburan.

Tahun 1971 – 1973 masa pelayanan Vicaris I Made Sunarya. Pada masa ini Jemaat Legian menerima kunjungan persekutuan sekolah minggu dan remaja dari Philadelpia Amerika Serikat. Di akhir kunjungan mereka menyerahkan bantuan dana untuk menyelesaikan pembangunan Gedung Gereja. Pembangunan Gedung Gereja selesai pada tahun 1972 dan ditabiskan oleh Pendeta Ketut Daniel atas nama Majelis Sinode GKPB.

Tahun 1974 – 1976 masa pelayanan kedua Pendeta Ketut Daniel. Di Tahun 1976 inilah Gedung Gereja di Seminyak tidak dipakai lagi dan sudah bergabung secara penuh di Legian.

Tahun 1977 – 1978 masa pelayanan Pendeta Nyoman Nasiun. Saat itu Pendeta Nyoman Nasiun adalah anggota team penerjemah Alkitab ke dalam Bahasa Bali.

Tahun 1978 – 1980 masa pelayanan Pendeta Suryantha Adi, untuk pertama kalinya pelayan jemaat tinggal dekat dengan jemaat di daerah Legian kaja, sehingga pelayanan terasa lebih efektif.

Tahun 1980 – 1985  masa pelayanan Pendeta Rai Subyakta. Saat itu secara sinodal jemaat Legian bergabung dalam satu wadah pelayanan Bersama jemaat Kerobokan dan jemaat Pelambingan.

Tahun 1985 – 1987 masa pelayanan Pendeta I Made Ramia. Pada waktu itu jemaat berjumlah 36 KK atau sekitar 169 orang. Karena jumlah jemaat terus bertambah maka mulai direncanakan untuk membangun Gedung Gereja yang baru agar lebih banyak dapat menampung Jemaat.

Tahun 1987 – 1990 masa pelayanan Pendeta Ketut Uryana. Pada periode ini melalui keputusan rapat jemaat dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja yang diketuai oleh Pdt. Ketut Suyaga Ayub. Tahun 1989 jemaat mulai merencanakan pembangunan setelah salah satu warga jemaat dari keluarga pak Wayan Robin dan I Nengah Puji merelakan sebagian tanah nya untuk dipakai Gedung Gereja yang baru dengan kompensasi setengah dari harga pasaran tanah saat itu, dan setengahnya diserahkan sebagai persembahan untuk Gereja. Dengan adanya Gedung Gereja yang baru ini, maka Gedung Gereja yang lama dipakai untuk rumah pendeta atau Pastori.

Tahun 1990 – 1992 masa pelayanan Pendeta I Made Priyana dan karena dia harus melanjutkan studi nya di UKDW Jogjakarta maka pelayanan dilanjutkan oleh Pendeta I Wayan Sudira Husada. Dari pengalaman melayani di Australia, Pendeta I Wayan Sudira Husada memiliki gagasan untuk membentuk ibadah dalam Bahasa Ingris mengingat pariwisata yang sangat pesat perkembangannya dan sudah dibukanya BTDC di Kawasan Nusa Dua. Maka pada masa pelayanan inilah terbentuk ibadah English Worship Service (EWS)

Tahun 1992 – 1996 masa pelayanan Pendeta Ketut Sudiana. Pada masa pelayanan ini Pos Pembinaan Iman di daerah Nusa Dua mulai terbentuk dan ini merupakan cikal bakal terbentuknya jemaat GKPB Bukit Doa Nusa Dua. Di masa ini juga tepatnya tanggal 23 Mei 1994 Gedung Gereja yang menjadi kebanggaan Jemaat Legian ditabiskan oleh Bishop DR. I Wayan Mastra dan prasasti ditandatangani oleh ketua DPRD Bali saat itu Brigjen I Gusti Sudiksa.

Tahun 1996 – 2000 masa pelayanan Pendeta Ida Bagus Kemenuh. Pada masa pelayanan ini Bersama majelis jemaat diputuskan untuk membuat Pos Pelayanan Iman di Daerah Seminyak, tepatnya di Hotel Dhyana Pura, dan ini menjadi cikal bakal terbentuk nya jemaat GKPB Dhyana Pura. Dengan semakin pesatnya perkembangan jemaat dipandang perlu untuk menambah jam ibadah, maka mulailah terbenduk ibadah sore hari pukul 18.00 dengan liturgi ibadah yang contemporer dengan memakai alat music lengkap ( band ).

Tahun 2000 -2004 masa pelayanan Pendeta Nyoman Sukaya, Pendeta DR. Ketut Siaga Waspada, dan Vicaris Victor A. Hamel. Pada masa ini ada dua pendeta senior yang melayani di Legian karena saat itu GKPB Dhyana Pura masih bergabung dalam satu wadah pelayanan. Selanjutnya Vicaris Victor A. Hamel ditabiskan kedalam jabatan Pendeta di Jemaat Legian bersama dengan Vicaris I Nyoman Parwita.

Tahun 2004 – 2008 masa pelayanan Pendeta I Made Ramia, untuk kedua kalinya Pendeta I Made Ramia mendapat kesempatan melayani di GKPB Jemaat Philadelphia Legian.

Tahun 2008 – 2012 masa pelayanan Pendeta I Nyoman Agustinus. Dalam masa ini jemaat membuka pelayanan baru yang bekerjasama dengan Yayasan Compassion yang kita kenal dengan nama PPA (Pusat Pengembangan Anak). Pelayanan untuk anak-anak yang kurang mampu tanpa membedakan agama nya dan dibantu dalam hal pendidikannya  juga pengenalan akan Tuhan Yesus sehingga diharapkan PPA menjadi bagian dari pelayanan PI atau Kabar Baik. Dimasa pelayanan ini pula Gedung Serbaguna “Bale Pesamua” GKPB Jemaat Philadelphia Legian ditabiskan tepatnya tanggal 12 Juni 2011 oleh Bishop Wayan Sudira Husada, Prasasti di tandatangani oleh Bupati Badung saat itu Anak Agung Gde Agung.

Tahun 2012 – 2016 masa pelayanan Pendeta I Nyoman Parwita. Dalam masa pelayanan ini sedang giat-giatnya untuk penginjilan dimana melalui kerjasama dengan Yayasan Tabur Tuai banyak warga jemaat yang mengikuti pelatihan EE (Evangelism Explosion). Diharapkan dengan metode EE ini jemaat ditantang untuk berani memberitakan kabar baik kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Tahun 2016 – 2020 masa  pelayanan Pendeta Rai Saul Suryadi. Pada masa pelayanan ini dimulai pembangunan untuk merenovasi total Gedung Gereja, tepatnya di bulan Mei 2018 berkat dana hibah yang diberikan oleh pemerintah daerah sebesar 2 Milyar rupiah. Namun sayang Pendeta Rai Saul Suryadi tidak dapat menyelesaikan masa pelayanannya karena masalah keluarga sehingga tahun 2019 pelayanan diserahkan ke MSH.

Sejarah GKPB Jemaat Philadelphia Legian akan terus berlanjut sampai pada angkatan yang berikutnya..